Kamis, 12 Desember 2019

[Tantangan Menulis Day #12] : Demi Buah hati, Semua Rintangan Kulalui


Sebut saja namanya Mawar. Dia wanita lembut dan penurut. Dia mencintai suami dan selalu patuh padanya. Bahkan saat dia diminta untuk meninggalkan karirnya demi keluarga.
***

Mawar berasal dari keluarga kaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu dia dimanja. Apapun yang dia inginkan, selalu dia dapatkan.

Saat Mawar mulai jatuh cinta, semua berubah! Suami Mawar bukan dari kalangan mampu. Mulanya, orang tua Mawar tak merestui. Namun kegigihan Mawar untuk meyakinkan mereka membuat kedua orang tuanya luluh. Mereka pun menikah.

Setelah menikah, Mawar dan suami merantau. Awalnya mereka berdua bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mawar bertekad mandiri, tak mau lagi tergantung pada orang tuanya.

Suami Mawar pekerja keras. Bahkan karirnya di tempat kerja melesat. Dia bisa membeli rumah dan mobil. Saat anak kedua mereka lahir, Mawar diminta suami keluar dari pekerjaannya. Fokus mengurus anak.

Mawar mematuhinya. Karir dan gelar sarjananya disimpan rapat, dikunci di dalam hati. Kini dia full time mom.

Semua tampak baik-baik saja. Hingga suatu hari Mawar menemukan chat yang mengusiknya di Hp suaminya. Saat Mawar mengkonfirmasi, yang didapatnya hanya amarah suami.

Hari demi hari berlalu. Mawar semakin yakin ada perselingkuhan antara suami dengan rekan kerjanya. Hubungan terlarang itu semakin terpampang nyata. Mawar yang pendiam hanya mampu memendam.

Jauh di dalam hati, Mawar sudah tak tahan. Dia ingin mengajukan cerai, tapi dia selalu memikirkan nasib anak-anaknya. Terutama kehidupan mereka ke depannya.

Mawar dilema. Hingga dia memutuskan untuk memberanikan diri menggugat cerai suaminya. Mawar tak yakin dengan kondisi psikologis anak-anaknya akan baik-baik saja dengan kondisi kedua orang tuanya yang tak lagi sehat. Ditambah lagi kehadiran wanita lain di samping ayah mereka.
***
Ini adalah hari pertama Mawar bekerja. Dia bekerja di sebuah kantor milik temannya. Mawar agak merasa sedikit kaku dengan aktivitas kantornya. Sudah lama sekali dia meninggalkannya. Sekarang di harus beradaptasi lagi.

Tapi rupanya bukan adaptasi itu yang membuat Mawar tak tenang. Saat bekerja di kantor, dia harus menitipkan anak-anaknya. Padahal selama ini mereka tak terpisahkan. Mawar ada bagi anaknya 24 jam.

Dengan berat hati Mawar mengundurkan diri dari kantor. Ini menjadi sulit saat Mawar harus memikirkan biaya hidup sehari-hari. Mengadu pada ayah ibunya bukanlah solusi. Dia sudah dewasa. Sudah seharusnya bisa bertahan dari masalah.

Mawar mencoba membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Awalnya dia ragu. Hanya satu dua pelanggan. Ada saat dia menangis karena lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah hati. Menjadi single parent tak semudah bayangannya.

Setiap hari dilalui Mawar tanpa mengeluh. Mentalnya diuji kini. Harus bertahan! Atau dia menyerah dan kalah! Tentu Mawar tak mau anak-anaknya terlantar. Dia bekerja keras agar anak-anaknya tak pernah merasa kekurangan meski mereka kini hidup tanpa ayah.

Kini Mawar adalah Bos bagi usaha kecilnya. Dia merekrut dua karyawan saat usahanya mulai maju, pelanggan mulai banyak, dan dia mulai kewalahan.

Optimisme terus dipupuknya demi masa depan anak-anaknya. Dia harus bertahan! Meski sering kali lelah mendera. Dia mengabaikan semuanya.

“Bukankah hidup adalah perjuangan tanpa akhir!” katanya tanpa ragu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berbagi komentar ^^