Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2020

Game KamAksara - Hujan



::

Orang bilang tak ada yang seindah hujan di bulan Juni, tapi bagiku sama saja. Semua hujan adalah jelmaan kesedihan. Dia menghanyutkan kenangan dalam genangan. Pun air mata yang mengalir bersama kepedihan.


Minggu, 20 Desember 2015

TENTANG SESEORANG YANG DIPANGGIL IBU (SEBUAH PUISI)


Ada pemandangan menarik yang saya tangkap saat saya menghadiri acara wisuda santriwan dan santriwati yang diadakan oleh LQ Al Ikhlash hari Ahad tanggal 20 Desember kemarin. Di tengah-tengah acara, salah satu santriwati maju ke depan, lalu berdiri di atas panggung untuk mempersembahkan sebuah puisi.
Naylufar binti Nayef Taufik Sungkar membacakan puisi berjudul Ibu dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. Namun atmosfir yang tercipta dalam ruangan sangat mengharu biru. Mata saya sempat menangkap pemandangan beberapa wali santri, terutama para ibu, menitikkan air mata. Dengan penghayatan yang baik, Naylufar mampu membawa pendengar hanyut dalam setiap kata dalam puisi yang dibawanya. Berikut puisi yang dibawakan apik oleh Naylufar, dipersembahkan untuk semua ibu di dunia ^^

Sabtu, 12 Desember 2015

Selasa, 08 Desember 2015

Selasa, 25 Agustus 2015

GADIS : Memori Rindu

Telah tertulis
ribuan kata di atas putih kertas tanpa noda
kecuali aksara yang menggenang di antara tinta
menghitamkan lembar dengan kisah kisah

Kamis, 30 Juli 2015

GADIS : Manis Perpisahan

Mengapa masih ada mendung yang kau sisakan di ujung mata
hingga tak mampu kelopak menahan derasnya bulir dalam rauman
bukankah, hari itu
di antara senyuman termanis bidadari bersenandung kidung
kau temukan aku melantunkan syair, tentang mu
selalu tentang mu, dan akan tetap begitu
karna tak mampu ku mengubah baitnya menjadi duka
meski itu pun adanya, dilema

Minggu, 05 Juli 2015

TENTANG OKTOBER

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGRn-JyCCwPI6RaxkSjv46R_KXjVTDLIWzYv2h_7L_jIh27UOyhnuLJzw37sCP_UEtiiwL54k7KR3LxqXJbUNYWUPsQi-OtKUi8VuIdeqLHapQYs9x6BQHkwVkPCbugRrljl6eipogR2U/s1600/cover+c-magz14.jpg
Masih tentang Oktober
membawaku padamu ... and I remember

Ada basah dari germis yang kian manis
aku, kamu dan kisah kita
terikur dalam lamunan embun kaca jendela
senyum manja dan kerlingan mata
menjelma rasa, berbingkai cinta

Rabu, 01 Juli 2015

BIARKAN WAKTU KAN MENJAWAB


Jikalau...
senja sore ini tak lagi jingga, mungkin waktuku tak lama

Maukah kau dengar, sayang
kisah bidadari melukis pelangi dengan air mata
pada setiap warnanya mewakili rasa
: cinta, sayang, kecewa
dan setiap hembusan nafas menasbihkan nama

Selasa, 30 Juni 2015

TITIP CINTA UNTUK AYAH

Sumber foto : http://ceritaayah.tumblr.com

Langkah langkah kecil berlarian
menerjang buih putih bibir pantai
tawa, senang, bahagia
di antara anak nelayan, menunggu
ayah mereka pulang
membawa secuil mimpi dari tengah lautan
: kan disimpan 
hingga tiba, mereka tergantikan

Sabtu, 20 Juni 2015

GADIS : Luka Yang Perih

Gadis itu
merebahkan kakinya perlahan
pada hampar rerumputan, basah
hujan semalam masih sisakan embun
menganakkan dentum pada bulir pucuk daun

Tunggunya penuh harap
hingga kabut berhimpun, melesat
pudarkan pandang jiwa yang tersesat
sendiri, sepi menggelayuti

Senin, 15 Juni 2015

SEPASANG MATA DI UJUNG SENJA

Sumber foto : https://dejulogy.wordpress.com

Ia menatap sepasang mata
dengan bulir sebening kaca

Rabu, 10 Juni 2015

BALADA PIPIT KECIL

Sumber foto : https://duniastudy.wordpress.com

Untukmu yang berhati tangguh,
menantang  hidup tanpa keluh

Sabtu, 30 Mei 2015

AKU & PAGI

By. Hana Aina
------------------------------------------------

Pagi ini, masih kurasakan denting semalam
saat rembulan kian angkuh, menekan
malam dengan cahyanya yang gemilang
dan malam
hanya terdiam
seolah menyerah pada amarah
yang ia simpan dalam senyuman

Hingga pagi ini
embun tak lagi bernyanyi
ia meneteskan bulirnya, sunyi
antara enggan dan sukacita
menggapai aksaranya
merangkainya dalam bait-bait kata

Aku masih terdiam
meski pagi telah menyapa
makin tersesat
dalam rasa dan pikiran tak nyata
akankah aku masih berduka?
atau menggila dalam suka yang fana?

-------------------------------------------------

Solo, 9 Juni 2012


Senin, 25 Mei 2015

Lihatlah, Bu!


By. Hana Aina



Bu, lihatlah!
Mobil-mobil mewah berlalu lalang
seumpama angin, riang tanpa beban
dan aku berdiri di antaranya
terombang ambing
di tengah pusaran jaman 


Bu, kemanakah aku harus mengadu?
jika hukum tak lagi berpihak padaku
saat sehat adalah mahal karena aku tak mampu
atau bodohku karena tak menuntut ilmu

Lihatlah aku, Bu!
tinggal kulit membalut tulang
terkungkung, menjadi bulanan para dewan
mereka bilang, bicara atas namaku
padahal, siapa mereka?
aku tak tahu 
 

Masihkah kau dengar keluhku, Bu?
perutku tak lagi terisi, karena kini
beras adalah emas
dan tangis para bayi menjadi harmoni
karena susu yang tak terbeli 


Bu, jangan berdiam diri
berbuatlah sesuatu
kepada siapa lagi aku akan mengadu
selain padamu,
Ibu Pertiwi-ku