Orang
bilang tak ada yang seindah hujan di bulan Juni, tapi bagiku sama saja. Semua
hujan adalah jelmaan kesedihan. Dia menghanyutkan kenangan dalam genangan. Pun
air mata yang mengalir bersama kepedihan.
Naylufar
binti Nayef Taufik Sungkar membacakan puisi berjudul Ibu dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. Namun atmosfir yang tercipta dalam ruangan sangat mengharu biru. Mata saya sempat menangkap pemandangan beberapa wali santri, terutama para ibu, menitikkan air mata. Dengan penghayatan yang baik, Naylufar mampu membawa pendengar hanyut dalam setiap kata dalam puisi yang dibawanya. Berikut puisi yang dibawakan apik oleh Naylufar, dipersembahkan untuk semua ibu di dunia ^^
Mengapa masih ada mendung yang kau sisakan di ujung mata hingga tak mampu kelopak menahan derasnya bulir dalam rauman bukankah, hari itu di antara senyuman termanis bidadari bersenandung kidung kau temukan aku melantunkan syair, tentang mu selalu tentang mu, dan akan tetap begitu karna tak mampu ku mengubah baitnya menjadi duka meski itu pun adanya, dilema
Ada basah dari germis yang kian manis aku, kamu dan kisah kita terikur dalam lamunan embun kaca jendela senyum manja dan kerlingan mata menjelma rasa, berbingkai cinta
Jikalau... senja sore ini tak lagi jingga, mungkin waktuku tak lama Maukah kau dengar, sayang kisah bidadari melukis pelangi dengan air mata pada setiap warnanya mewakili rasa : cinta, sayang, kecewa dan setiap hembusan nafas menasbihkan nama
By. Hana Aina ------------------------------------------------ Pagi ini, masih kurasakan denting semalam saat rembulan kian angkuh, menekan malam dengan cahyanya yang gemilang dan malam hanya terdiam seolah menyerah pada amarah yang ia simpan dalam senyuman Hingga pagi ini embun tak lagi bernyanyi ia meneteskan bulirnya, sunyi antara enggan dan sukacita menggapai aksaranya merangkainya dalam bait-bait kata Aku masih terdiam meski pagi telah menyapa makin tersesat dalam rasa dan pikiran tak nyata akankah aku masih berduka? atau menggila dalam suka yang fana? ------------------------------------------------- Solo, 9 Juni 2012
Bu, lihatlah! Mobil-mobil mewah berlalu lalang seumpama angin, riang tanpa beban dan aku berdiri di antaranya terombang ambing di tengah pusaran jaman
Bu, kemanakah aku harus mengadu? jika hukum tak lagi berpihak padaku saat sehat adalah mahal karena aku tak mampu atau bodohku karena tak menuntut ilmu
Lihatlah aku, Bu! tinggal kulit membalut tulang terkungkung, menjadi bulanan para dewan mereka bilang, bicara atas namaku padahal, siapa mereka? aku tak tahu
Masihkah kau dengar keluhku, Bu? perutku tak lagi terisi, karena kini beras adalah emas dan tangis para bayi menjadi harmoni karena susu yang tak terbeli Bu, jangan berdiam diri berbuatlah sesuatu kepada siapa lagi aku akan mengadu selain padamu, Ibu Pertiwi-ku