Kamis, 23 Juni 2022

Berkarya dan Berbagi Lewat Antologi bersama IIDN


Salah satu kegiatan favoritku adalah menulis. Orang bilang menulis itu sulit. Sebagian lagi bilang kalau nggak punya bakat menulis. Etapi tahukah kamu, ada yang bilang juga kalau menulis itu 1% bakat, 99% nya adalah latihan.

Yup! Menulis itu skill. Yang itu berarti kemampuan menulis itu bisa dipelajari dan ditingkatkan. Kuncinya ada 3 : Praktik! Praktik! Praktik! Apa yang dipraktikkan? Tentu saja praktik menulis.

Aku sendiri pernah ikut beberapa kali kelas menulis. Temanya pun berbeda-beda karena memang aku ingin belajar banyak tentang dunia menulis. Selain itu aku juga bergabung dalam beberapa komunitas menulis. Banyak banget manfaat yang kudapat dari hal ini : teman, ilmu, relasi, termasuk peluang berkarya.

 

Asyiknya Menulis Antologi

Salah satu komunitas penulis yang aku ikuti adalah Ibu Ibu Doyan Nulis alias IIDN. Ini adalah komunitas penulis perempuan pertama yang kuikuti. Banyak kegiatan yang aku ikuti di komunitas perempuan ini. Salah satunya adalah tantangan menulis.

Bukan hanya sekedar tantangan menulis, sih. Menariknya, ini adalah ajang seleksi tulisan untuk antologi. FYI, bagi yang belum tahu, antologi tuh kumpulan karya dari beberapa orang. Dalam hal ini, antologi yang kuikuti berwujud kumpulan karya yang berupa tulisan. Temanya juga berbagai macam. Ada yang berupa naskah non fiksi, naskah fiksi, puisi, dll.

Bagi siapapun yang sedang belajar menulis, tidak ada salahnya ikut seleksi antologi. Tantang dirimu berkompetisi dengan penulis lain. Semacam mengasah mental dan kemampuan menulis yang sudah didapat.

Selama aku bergabung, IIDN cukup sering menyelenggarakan seleksi antologi. Tulisanku pernah beberapa kali lolos seleksi antologi bareng komunitas perempuan penulis ini. Tema yang kuikuti pun beragam. Ada yang tentang pengalaman ngeblog, pengalaman healing, hingga naskah fiksi berupa cerita anak.

Bagiku antologi semacam batu loncatan untuk menulis karya yang lebih dalam lagi, buku solo misalnya. Untuk antologi yang ditulis oleh rame-rame oleh beberapa penulis, biasanya aku menulis 5-7 lembar saja. Sedangkan buku solo, aku harus menulis 150-200 lembar.

Butuh usaha dan napas yang lebih panjang saat menulis buku solo. Etapi bukan berarti menulis antologi tidak butuh usaha, ya. Keduanya tetap sama butuh semangat dan perjuangan menyelesaikannya, meski memang gregetnya beda.

Aku sih masih terus berusaha mencoba mengumpulkan keberanian menulis buku solo. Salah satu caraku melatihnya, ya lewat antologi ini. Lebih sering aku menantang diri menulis antologi, aku merasa lebih terlatih.

Selain sebagai batu loncatan, antologi juga kugunakan sebagai ajang latihan menulis. Dengan tema yang beragam, aku berusaha menantang diri sendiri untuk menulis sesuai tema. Dengan tema yang lebih beragam, kemampuan menulis pun lebih terasah. Bagaimanapun, masing-masing tema memiliki cara penulisan dan tantangan yang berbeda.

Penulisan naskah non fiksi misalnya, tentu berbeda dengan naskah fiksi. Naskah non fiksi yang berdasarkan pengalaman pribadi yang menggembirakan tentu berbeda cara menceritakannya dengan naskah pengalaman menyedihkan.

Pun demikian dengan naskan fiksi. Jika target pembacanya anak-anak -semacam cerita anak- tentu bahasa dan tema yang diangkat sangat berbeda dengan cerita untuk dewasa. Demikian pula dengan cerita yang diperuntukkan bagi remaja. Belum lagi setting tempat dan penokohan, menjadi tantangan sendiri bagi penulis.

Semakin banyak tema yang kutulis, semakin banyak pengalaman yang kudapatkan. Salah satu yang dilakukan sebelum menulis adalah riset. Ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan data dan bahan tulisan. Riset dilakukan baik saat akan menulis tulisan fiksi maupun non fiksi.

Dengan melakukan riset, mau tidak mau aku harus membaca banyak hal sesuai bidang yang akan kutulis. Semakin beragam yang kubaca, semakin banyak ilmu yang kudapat.

 


Berkarya dan Berbagi Lewat Antologi

Selama bergabung dengan komunitas perempuan IIDN, aku beberapa kali berkesempatan menjadi kontributor di buku antologi IIDN. Setelah memberanikan diri ikut dalam seleksi, berkompetisi dengan penulis lain, akhirnya naskahku lolos. Alhamdulillah banget, ya.

Antologi pertamaku bersama komunitas penulis IIDN adalah Ngeblog Seru ala Ibu Ibu. Ini adalah antologi yang membahas tentang dunia blogging. Ada dua naskahku yang lolos di antologi ini. Aku menulis keduanya lebih ke sharing pengalaman selama aku menjadi blogger.

Pada naskah pertama, aku  berbagi pengalamanku dalam merawat blogku. Ibarat rumah, blog adalah rumah bagi seorang blogger. Rumah perlu dirawat. Salah satu cara merawat blog adalah terus menulis konten.

Di naskah kedua, aku menuliskan beberapa tips yang bisa dilakukan blogger pemula untuk menjadikan blognya sumber cuan. Ada beberapa cara yang kutulis di sana. Meski aku pribadi tidak menerapkan semuanya di blogku, hanya beberapa saja. Yeah, siapa tahu ada pembaca buku antologi Ngeblog Seru ala Ibu Ibu yang ingin mencobanya.

Setelah menulis naskah non fiksi, untuk antologi kedua bersama komunitas penulis IIDN aku mencoba menulis naskah fiksi. Lebih tepatnya cerita anak. Di antologi ini aku membuat cerita petualangan beberapa anak pemberani yang memecahkan teka teki sebuah rumah tua. Bagiku, di antologi ini bukan hanya sekedar menyuguhkan hiburan tapi juga mengajarkan kekompakan tim pada anak-anak yang membacanya.

Antologi ketigaku bersama komunitas perempuan penulis IIDN sedikit emosional. Judul besarnya adalah Pulih. Dari ketiga antologi, inilah proses penulisan terberat yang kulakukan. Bukan karena menulisnya, tapi lebih karena kenangan yang harus kutulis di naskah ini. Aku sempat menangis beberapa kali untuk menyelesaikan naskah ini.

Yup! Pulih adalah kumpulan kisah berdasarkan cerita nyata tentang perjuangan para penulis keluar dari situasi terpuruknya. Kami mencoba berdamai dengan masa lalu, terutama hal-hal tidak menyenangkan hingga membuat kami mengalami trauma berkepanjangan.

Dan ternyata melepaskan semua trauma masa lalu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan. Karenanya di antologi Pulih ini, kami para kontributor didampingi langsung oleh seorang Psikolog. Beliau membantu kami melewati tahapan pemulihan diri.

Harus kuakui, menulis antologi Pulih seperti mengorek luka masa lalu. Tapi bagaimanapun luka itu harus segera disembuhkan agar kehidupan di masa mendatang berjalan lebih baik. Apapun masalah yang dihadapi, kami berjuang untuk bangkit. Kami kehilangan orang tercinta, tapi jangan sampai kehilangan semangat untuk meneruskan hidup.

Dari berbagai antologi bersama komunitas penulis IIDN, aku merasakan bahwa ini bukan hanya sekedar mengumpulan tulisan untuk dibukukan. Ini adalah cara penulis bersama IIDN memberikan manfaat kepada pembaca melalui tulisan. Ada ilmu bermanfaat, pengalaman berharga yang dibagikan, berbagai kisah kehidupan yang menginspirasi, hingga hiburan.

Orang bijak mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Namun untuk mendapatkan pelajaran dari sebuah pengalaman, kita tidak harus melalui peristiwa itu sendiri. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Salah satunya lewat membaca, termasuk beberapa buku antologi IIDN yang memang ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya.

 


Tips Mengikuti Antologi

Ada saja setiap tahuan, atau malah setiap bulan beberapa pihak yang menyelenggarakan audisi naskah antologi. Tema yang ditawarkannya pun bermacam-macam. Nah, buat kamu yang ingin mencoba ikutan, aku ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan dalam mempersiapkan naskahmu. Siapa tahu lolos. Bisa dibukukan pula. Asyik!

  • Baca baik-baik syarat. Jangan sampai yang diminta panitia tulisan bentuknya A, eh kamu nulisnya bentuk B. Menulislah sesuai dengan aturan. Termasuk persyaratan pengiriman naskah.
  • Menulislah sesuai tema yang ditentukan. Pilih ide yang unik dan gali tulisanmu lebih mendalam.
  • Rapikan naskah. Minimalkan kesalahan tulisan dan gunakan tanda baca dengan baik.
  • Jangan SKS alias Sistem Kebut Semalam! Kerjakan naskah jauh hari. Jangan mepet deadline. Dengan mengerjakan naskah jauh sebelum deadline, kamu masih ada waktu untuk mengendapkan naskahmu lalu mengeditnya.
  • Perhatikan deadline. Jangan sampai telat mengirimkan naskah. Sayang kan kalau naskah sudah jadi tapi didiskualifikasi karena telat mengirimnya.
  • Perhatikan pula etika pengiriman naskah. Jika diminta mengirim naskah lewat email, jangan lupa menuliskan salam pembuka, salam penutup serta kalimat pengantar pada badan email. Jangan kosongan, ya. Kayak bakso aja, haha.

Tidak ada salahnya kamu mencoba menulis antologi sebagai bagian dari proses belajar menulis. Kalau sudah terbiasa, kamu bisa meningkatkan kemampuanmu dan memberanikan diri menulis buku solo.



Siapa sih yang gak mau berkembang menjadi lebih baik? Semua pasti ingin. Namun segala sesuatu yang besar bisa diawali dengan langkah kecil. Termasuk menulis antologi. Selamat mencoba!

 

 

~ Hana Aina ~

 

 

Baca juga, ya ...


Lakukan 5 Trik Ini agar Paragraf Pertamamu Menarik

Resolusi Membacaku Tahun 2022

Lakukan Cara Ini agar Buku Aman Dibawa Kemana Saja

5 Trik agar Judul Artikelmu Menarik

Serba Serbi Menulis Fiksi di Platform

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berbagi komentar ^^