Jumat, 01 Mei 2015

ANDAI KUTAHU

Sore tadi Ariel membawakan sesuatu untukku. Sekotak mungil yang dia genggam di tangan kirinya dan dia angsurkan ke telapak tanganku.
"Bukalah saat menjelang tidur nanti," katanya. Aku tak sabar menanti malam. Aku ingin segera membuka kotak mungil berbungkus pink itu.
Kini malam telah menjelang. Kantukku mulai menyerang. Aku bersiap membuka kotak itu, ketika tiba-tiba ringtone yang aku setel khusus untuk Ariel berbunyi.
"Ya?” Sapaku dengan heran.
"Beib, maaf... salah ngasih kotak. Jangan dibuka ya. Pliss." Omaygot… Jadi apa isi kotak ini dan untuk siapa? Tanyaku menyeruak.
“Tapi....” Telfon terputus sebelum tanyaku terlontar. Aku bingung, bimbang, bercampur penasaran. Harus aku buka. Lagipula kotak itu sudah terlanjur diberikan untukku. Satu persatu aku lucuti bungkusnya. Ternyata ada sebuah kotak kecil lagi di dalamnya. Segera saja aku buka. Sebuah cincin. Ya Tuhan, betapa bahagianya aku, sebuah cincin yang indah. Tapi tunggu dulu. Kotak ini bukan untukku, lalu untuk siapa?! Ada surat di dalamnya.
Untuk gadisku tersayang,
Terimalah cincin ini sebagai tanda cintaku padamu. Cincin ini sangat berharga untukku, jadi jaga baik-baik ya. Salam sayang dan cinta selalu.
Malaikat penjagamu,
Ariel
Berbagai macam praduga berseliweran. Jantungku berdegub kencang. Aku coba menguhubungi Ariel, tapi handphonenya mati. Bergegas aku menuju garasi. Malam ini juga aku harus bertemu Ariel. Dia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mesin mobil aku hidupkan, dengan segera aku tancap gas. Aku masih berusaha menghubungi Ariel, tapi tetap saja nihil.
Ada sesuatu yang seakan ingin meledak di dadaku. Aku tak bisa konsentrasi menyetir. Beberapa lampu merah aku lewati. Sekali lagi aku pencet nomor Ariel, masih tidak aktif. Tanganku semakin menggenggam erat setir mobil. Aku mulai kalut. Bahkan tak aku hiraukan speedometer yang telah melebihi batas kecepatan.
Tikungan terakhir menuju rumah Ariel. Thanks God, aku berhasil melaluinya dengan mulus. Rumah nomor tiga belas, berpagar hitam rendah dengan taman mungil di depannya. Aku hentikan mobil lalu melihat ke jam tangan. Sudah jam sebelas malam, tapi lampu masih menyala di ruang depan.
Aku bergegas membuka pintu mobil. Belum sempat aku melangkahkan kaki, sesuatu membuat tensiku semakin naik. Aku melihat Ariel keluar rumah bersama seorang gadis. Tangan Ariel merangkul gadis itu. Ekspresi wajahnya terkejut melihatku.
“Erin, ada apa malam-malam begini?”
“Mengembalikan kotakmu.” Aku berjalan mendekat, lalu melemparkan kotak itu padanya. “Ini.” Ariel menangkap kotak itu dengan sigap. Sesaat, diamatinya kotak tersebut dengan bungkus yang sudah acak-acakan.
“Kau…sudah…” Kata-kata Ariel terbata.
“Ya, aku sudah membukanya.” Jawabku lantang. Nafasku mulai tak teratur. “Siapa gadis itu?” Pandanganku tertuju pada gadis di samping Ariel. Mendung mulai menggelayut di kedua mataku.
Ariel menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan panjang. Tapi tetap tak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
“Kalau kau memang tak mencintaiku lagi, lebih baik kita putus.” Suaraku bergetar.
“Erin, sumpah demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Bagaimana lagi aku harus membuktikannya padamu.”
“Kau mencintaiku?! Lalu dia, kau mencintainya juga?!” Mataku mulai sembab dan memerah. Sesekali masih sempat kulirik gadis yang sekarang berdiri di belakang Ariel, seolah ingin bersembunyi dariku. Gadis dengan poni samping yang membingkai wajah tirusnya, wajah yang mulai ketakutan. Sedang tangannya menarik-narik kemeja Ariel.
Ariel mencoba menenangkan dan melepas genggaman tangan gadis itu dari kemejanya. “Sebentar sayang.”
“Sayang?! Kau memanggilnya sayang?!” Mendung di mataku telah menjelma menjadi awan hitam yang tak mampu lagi membendung titik-titik air. Hujan deras di mataku. Aku membalikkan badan dan ingin segera berlari. Namun tangan Ariel menahan tanganku.
“Erin, aku mencintaimu. Sampai kapan pun aku tetap mencintaimu.” Suara Ariel melembut. Kata-kata Ariel berlanjut. “Dia adalah adikku Arie.”
Ha?! Adik?! Selama ini Ariel tidak pernah bercerita padaku kalau dia punya adik.
“Sedang cincin itu adalah peninggalan ibu yang dititipkan padaku untuk adikku. Karnanya cincin itu sangat berharga untukku.” Penjelasan Ariel menurunkan tensiku perlahan. Nafasku pun mulai teratur.
“Dan untuk adikku satu-satunya, aku akan selalu menjadi pelindungnya.” Hatiku berdesir, merasa bersalah dengan segala prasangkaku pada Ariel.
Ariel menatapku dengan lebut. Aku memberanikan diri membalas tatapannya. Sesaat kemudian tangan kirinya mengambil sesuatu dari saku celana. Sebuah kotak mungil lagi?! Oh tidak, apa lagi kali ini?!
Ariel tersenyum manis, lalu merendahkan tubuhnya.
“Duhai gadis yang kupuja di kala siang dan kumimpi di kala malam. Maukah kau mendampingiku menghabiskan sisa hidupku?!”
Aku merasakan perubahan tekanan darah di sekitar wajahku. Pipiku merona. Ya Tuhan, ini seperti adegan dalam sinetron. Seorang pangeran yang melamar tuan putrinya. Hatiku berbunga. So sweet.
Tenang Erin, tenang. Hatiku berbicara, sedangkan bibirku berkata “Ya aku bersedia."
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berbagi komentar ^^